Obat Non-Formularium Sering Bikin Klaim Pending: Risiko Klinis & Dampaknya terhadap Klaim BPJS dalam Skema INA-CBG

penggunaan obat non-formularium pada pasien JKN dengan dokumentasi medis yang memadai untuk mendukung validitas klaim BPJS dalam skema INA-CBG di rumah sakit.
Photo by freestocks / Unsplash

Ringkasan Eksplisit

Penggunaan obat non-formularium dalam pelayanan pasien JKN tanpa justifikasi klinis yang terdokumentasi secara memadai berpotensi menyebabkan pending klaim BPJS dalam skema INA-CBG. Hal ini penting karena kesesuaian terapi dengan Formularium Nasional menjadi dasar pembiayaan layanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan. Ketidaksesuaian antara terapi yang diberikan dan dokumentasi medis yang tersedia dapat memicu verifikasi tambahan serta koreksi klaim. Dalam praktik operasional, integrasi dokumentasi melalui platform seperti MedMinutes.io digunakan sebagai konteks enabler monitoring penggunaan terapi dan pencatatan klinis secara real-time tanpa mengubah alur pelayanan utama.


Definisi Singkat

Obat non-formularium adalah obat yang tidak tercantum dalam Formularium Nasional (Fornas) dan penggunaannya dalam pelayanan pasien JKN memerlukan justifikasi klinis yang terdokumentasi secara eksplisit dalam rekam medis untuk dapat dipertimbangkan dalam pembiayaan klaim BPJS.

Kalimat Ringkasan: Ketidaksesuaian antara penggunaan obat non-formularium dan dokumentasi medis berisiko menurunkan validitas klaim dalam sistem INA-CBG.


Apa Itu Obat Non-Formularium dan Mengapa Penting dalam Klaim BPJS?

Penggunaan obat non-formularium pada pasien JKN tidak dilarang, namun harus disertai:

  • Indikasi klinis yang jelas
  • Bukti kegagalan terapi sebelumnya
  • Pertimbangan DPJP terhadap kondisi komorbid
  • Dokumentasi eksplisit dalam SOAP atau resume medis

Tanpa dokumentasi tersebut, sistem verifikasi BPJS berpotensi menilai terapi sebagai tidak sesuai standar pembiayaan, meskipun secara klinis dapat dibenarkan.


Titik Rawan dalam Pelayanan Farmasi RS

Dalam praktik lapangan—terutama di RS Tipe B dan C dengan volume pasien BPJS tinggi—kasus berikut sering terjadi:

  1. Obat non-formularium diberikan saat kondisi emergensi di IGD
  2. Terapi dilanjutkan saat rawat inap tanpa update dokumentasi
  3. Resume medis tidak mencantumkan alasan pemilihan terapi
  4. Tidak ada catatan kegagalan terapi sebelumnya

Akibatnya:

  • Diagnosis dan terapi tidak selaras
  • Terapi tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam proses grouping
  • Klaim masuk kategori verifikasi khusus
  • Terjadi pending klaim BPJS

Dampak terhadap Klaim & Cashflow RS

Komponen Risiko

Dampak Operasional

Implikasi Finansial

Obat non-formularium tanpa justifikasi

Verifikasi tambahan

Klaim tertunda

SOAP tidak mencantumkan indikasi

Koreksi berulang

Pembayaran tertunda

Resume medis tidak sinkron

Mismatch terapi

Nilai klaim dikurangi

Tidak ada audit trail

Klarifikasi BPJS

Cashflow terganggu

Dalam skenario dengan 200 kasus rawat inap/bulan, jika 12% menggunakan obat non-formularium tanpa dokumentasi memadai dan 50% di antaranya mengalami pending klaim sebesar Rp3.000.000/kasus:

Potensi klaim tertahan = 12 kasus × Rp3.000.000 = Rp36.000.000/bulan


Mini-Section untuk Direksi RS, Kepala Casemix & Penunjang Medik (RS Tipe B/C)

Audiens: Direksi RS, Kepala Instalasi Farmasi, Tim Casemix

Verdict: Kepatuhan terhadap formularium nasional dan dokumentasi klinis merupakan fondasi efisiensi biaya serta tata kelola terapi dalam sistem pembiayaan INA-CBG.

Apakah Penggunaan Obat Non-Formularium Mengganggu Validitas Klaim BPJS?

Ya, jika tidak disertai dokumentasi klinis yang memadai. Penggunaan obat non-formularium dapat diterima dalam skema INA-CBG selama terdapat indikasi medis dan alasan pemilihan terapi yang terdokumentasi secara eksplisit.

Use Case:

  • RS A menggunakan sistem monitoring terapi terintegrasi
  • RS B menggunakan dokumentasi manual

Dalam 100 kasus dengan terapi non-formularium:

RS

Pending Klaim

Rata-rata Delay

A

6 kasus

5 hari

B

18 kasus

12 hari

Potensi klaim tertahan di RS B:18 kasus × Rp2.500.000 = Rp45.000.000/bulan


Pendekatan Kepatuhan & Dokumentasi Terapi

Diperlukan pendekatan sistematis:

  • Standarisasi dokumentasi indikasi terapi
  • Integrasi SOAP dan catatan farmasi
  • Monitoring penggunaan obat non-formularium
  • Audit trail penggunaan terapi

Dalam praktik operasional, pendekatan ini dapat difasilitasi melalui alur IGD atau konferensi klinis dengan dukungan sistem dokumentasi seperti MedMinutes.io sebagai konteks monitoring penggunaan terapi dan dokumentasi medis lintas unit.


Risiko Implementasi

Risiko

Penjelasan

Adaptasi sistem

Perubahan alur dokumentasi

Pelatihan SDM

Waktu pelatihan awal

Integrasi data

Sinkronisasi antar unit

Namun, risiko ini sepadan karena:

  • Mengurangi potensi pending klaim
  • Meningkatkan kecepatan pembayaran
  • Memperkuat tata kelola terapi
  • Mendukung efisiensi biaya layanan

Kesimpulan

Penggunaan obat non-formularium dalam pelayanan pasien JKN memerlukan dokumentasi medis yang eksplisit untuk menjaga validitas klaim dalam sistem INA-CBG. Ketidaksesuaian antara terapi dan dokumentasi berisiko memicu pending klaim BPJS serta mengganggu stabilitas cashflow RS. Dalam konteks manajerial, pendekatan monitoring penggunaan terapi melalui sistem dokumentasi terintegrasi seperti MedMinutes.io berperan sebagai enabler tata kelola klinis lintas unit tanpa mengubah praktik klinis utama.

Kalimat Keputusan Strategis: Integrasi dokumentasi terapi menjadi dasar pengambilan keputusan Direksi RS dalam menjaga efisiensi biaya, kecepatan layanan, dan tata kelola klinis—khususnya pada RS tipe B dan C dengan volume pasien BPJS tinggi.


FAQ

1. Apa itu obat non-formularium dalam pelayanan BPJS?

Obat non-formularium adalah obat yang tidak tercantum dalam Formularium Nasional dan penggunaannya memerlukan justifikasi klinis yang terdokumentasi dalam rekam medis agar dapat dipertimbangkan dalam klaim BPJS.

2. Mengapa penggunaan obat non-formularium dapat menyebabkan pending klaim BPJS?

Penggunaan obat non-formularium tanpa dokumentasi medis yang menjelaskan indikasi terapi berisiko dinilai tidak sesuai standar pembiayaan INA-CBG oleh BPJS.

3. Bagaimana dokumentasi medis mempengaruhi klaim INA-CBG terkait obat non-formularium?

Dokumentasi medis yang mencantumkan indikasi klinis dan alasan pemilihan terapi dapat membantu memastikan bahwa penggunaan obat non-formularium tetap dapat diterima dalam proses verifikasi klaim INA-CBG.


Sumber

  • Formularium Nasional Kementerian Kesehatan RI
  • Panduan Teknis INA-CBG BPJS Kesehatan
  • Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN

Read more

Monitoring dokumentasi medis dan klaim BPJS untuk menjaga stabilitas cashflow rumah sakit dalam skema INA-CBG.

Mengelola Ketidakpastian Keuangan Rumah Sakit akibat Dinamika BPJS

Ringkasan Eksplisit Ketidakpastian keuangan rumah sakit sering kali dipicu oleh dinamika regulasi BPJS, proses verifikasi ulang, serta inkonsistensi dokumentasi medis dalam skema pembiayaan INA-CBG. Kondisi ini penting karena berdampak langsung terhadap validitas klaim, stabilitas cashflow rumah sakit, serta kemampuan RS dalam merencanakan investasi layanan klinis. Tanpa integrasi antara aktivitas klinis

By Thesar MedMinutes
Dashboard integrasi dokumentasi medis untuk monitoring layanan klinis dan klaim INA-CBG di rumah sakit.

Mengoptimalkan Daya Saing Rumah Sakit melalui Efisiensi Operasional dan Integrasi Layanan

Ringkasan Eksplisit Efisiensi operasional rumah sakit merujuk pada kemampuan sistem layanan dalam memproses episode perawatan secara tepat waktu, terdokumentasi secara klinis, dan terintegrasi secara administratif sesuai standar klaim BPJS dalam skema INA-CBG. Hal ini penting karena proses layanan yang lambat, dokumentasi medis yang tidak sinkron, serta fragmentasi sistem berisiko menurunkan

By Thesar MedMinutes
Dokumentasi SOAP pada layanan rawat jalan digunakan untuk menjaga kesesuaian diagnosis ringan dengan tindakan dalam proses klaim BPJS berbasis INA-CBG.

Mengendalikan Risiko Pending Klaim pada Kasus Rawat Jalan dengan Diagnosis Ringan

Ringkasan Eksplisit Risiko pending klaim BPJS pada layanan rawat jalan dengan diagnosis ringan seringkali tidak disebabkan oleh kompleksitas klinis, tetapi oleh ketidaksesuaian antara diagnosis, tindakan, dan dokumentasi medis (SOAP) dalam skema INA-CBG. Hal ini penting karena klaim dengan justifikasi klinis yang lemah tetap berpotensi diverifikasi ulang meskipun berasal dari kasus

By Thesar MedMinutes
Tenaga medis menggunakan sistem rekam medis elektronik untuk mempercepat dokumentasi layanan pasien di rumah sakit

Strategi Efisiensi Layanan RS untuk Meningkatkan Kepuasan Pasien tanpa Beban Administratif Tambahan

Ringkasan Eksplisit Peningkatan kepuasan pasien di rumah sakit merupakan hasil dari layanan klinis yang efisien, terdokumentasi secara konsisten, serta terintegrasi dengan proses administratif seperti klaim BPJS dalam skema INA-CBG. Hal ini menjadi penting karena beban kerja tenaga medis yang tinggi seringkali berasal dari proses manual yang berulang, bukan dari kompleksitas

By Thesar MedMinutes
Siap Transformasi Digital Rumah Sakit Anda?
Jangan biarkan inefisiensi menggerus margin. Diskusi strategi digitalisasi gratis bersama konsultan MedMinutes.
Jadwalkan Demo Gratis